Breaking NewsPMI lainnya

Terkuaknya PMI yang Jadi Korban Kekerasan Staf KJRI oleh Media Amerika Serikat

Media Amerika Serikat The Washington Post merilis hasil investigasi mengenai dugaan kekerasan oleh Staf Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) terhadap seorang PMI bernama Sri Yatun yang pernah bekerja sebagai Asisten Rumah Tangga (ART) di rumah dinas salah satu staf KJRI Los Angeles, Cicilia Rusdiharini dari tahun 2204-2007.

Laporan The Washington Post Magazine fokus membahas kisah para ART asing yang dibawa ke AS oleh para majikan mereka yang merupakan diplomat atau pejabat organisasi internasional di bawah program Visa khusus AS. Namun para ART malah jadi korban penganiayaan di negeri Paman Sam tersebut.

Seorang jurnalis The Washington Post Magazine mewawancarai ART bernama Sri Yatun tersebut, penyedia layanan sosial, teman-teman korban, serta atas dasar pernyataan yang diberikan di bawah sumpah sebagai bagian dari pengajuan T-visa korban. Untuk diketahui T-visa merupakan dokumen khusus yang diberikan kepada korban penyelundupan manusia.

Pekerja Migran Indonesia (PMI) asal Indonesia yang jadi korban kekerasan oleh majikannya yang berstatus sebagai salah satu staf KJRI tersebut tiba di AS pada tahun 2004. Kemampuan para ART untuk tinggal secara legal di AS ada di tangan para majikan mereka, yang mungkin memiliki kekebalan diplomatik dari aturan hukum AS. Sementara banyak ART yang memiliki hubungan saling menghormati dan mendalam dengan majikan mereka.

Ketidakseimbangan kekuasaan yang diberikan visa itu memicu berbagai persoalan, seperti kerja yang sudah melampaui jam yang semestinya, upah yang sedikit dan persoalan lebih buruk lainnya. Sri Yatun menuturkan sang majikan saat memberitahunya bahwa dia akan bekerja tanpa upah selama 4 bulan pertama hingga mereka pindah ke AS. Informasi ini didasarkan pada keterangan Sri dan dokumen T-visa.

Dituturkan Sri juga bahwa staf KJRI itu menyebut upahnya akan digunakan untuk membayar pengajuan visa dan tiket pesawat ke AS. Saat itu Sri menyakinkan dirinya bahwa semuanya tidak akan sia-sia. Kontrak bekerja di AS terlihat bagus yakni dengan upah US$ 400 per minggu per 40 jam dan tambahan US$ 13 per jam untuk lembur.

Setibanya di AS, Sri bekerja siang dan malam tanpa libur, masih menurut dokumen T-visa serta wawancara dengan 3 teman Sri dan seorang aktivis anti-perdagangan manusia asal Indonesia yang membantu Sri bertahun-tahun kemudian. Sri menuturkan bahwa dirinya kadang-kadang hanya diberi upa US$ 50 hingga US$ 100 lebih dalam sebulan.

Semua ini dilakukannya sambil menanggung pelecehan verbal dan ancaman dari majikannya dan suami majikannya. Sri bercerita tentang emosi suami majikannya yang kerap meledak-ledak.

Sri juga pernah mendapat kekerasan secara verbal bahkan pernah dilempar remote control hingga mengenai kepalanya. Sri yang ingin pergi, langsung mendapatkan ancaman dari majikan akan menjebloskan dirinya ke penjara karena pergi tanpa izin dari mereka.

Hingga akhirnya Sri menemukan paspornya yang disembunyikan majikannya dan dia baru menyadari bahwa paspornya sudah kadaluarsa. Sri menuturkan dirinya sudah 3 tahun lebih meminta kepada majikannya untuk melihat paspornya karena khawatir jika visa sudah kadaluarsa, ia bisa terancam dideportasi bahan dilarang untuk kembali ke AS.

Darnichn



Related Articles