Breaking NewsPMI lainnya

Perekrutan Pekerja Migran ke Hongkong Kembali Dibuka, Syarat Harus Sudah Vaksin

Perekrutan Pekerja Migran Indonesia (PMI) tujuan Hongkong sudah kembali dibuka sementara negara-negara lain masih memberlakukan moratorium penerimaan tenaga kerja dari Indonesia.

Hal ini disampaikan Ketua Serikat Buruh Migran Indonesia (SBMI) Cabang Banyuwangi Agung Subastian setelah memeriksa perkembangan terbaru rekrutmen tenaga kerja dari Indonesia. Dia juga mengatakan bahwa sebagian pemerintah desa di Banyuwangi telah berkoordinasi dengan pihaknya terkait pemberangkatan buruh migran. Sebagian calon buruh migran juga telah berada di penampungan atau tempat latihan Perusahaan Penempatan Pekerja Migran Indonesia (P3MI) untuk bersiap diberangkatkan.

“Karena pandemi mereka molor, ada yang dipulangkan dan yang stay di pelatihan,” kata Agung, Minggu (12/9/2021). Dia mengatakan ada syarat-syarat baru agar buruh migran diperbolehkan masuk ke Hongkong selain telah terikat dan memiliki kontrak kerja. Syarat tambahan itu berupa sertifikat vaksin dosis pertama dan kedua yang dia terima setidaknya 14 hari sebelum keberangkatan.

Calon buruh migran juga harus membawa bukti tes PCR negatif yang diperoleh maksimal 72 jam sebelum masuk negara Hongkong juga memiliki bukti telah memesan tempat karantina seperti misalnya di hotel khusus yang telah disiapkan dan akan dijalankan selama 21 hari.

Agung mengatakan semestinya biaya sewa kamar hotel karantina dan tes PCR ditanggung oleh calon majikan. Dalam Peraturan Badan Perlindungan Pekerja Migran Indonesia (BP2MI) nomor 9 tahun 2020 menyebutkan biaya penempatan calon pekerja migran tidak boleh dibebankan ke pekerja migran.

Mengenai adaptasi pada kondisi pandemi Covid-19 tersebut, waktu tunggu pekerja migran sebelum bekerja juga akan semakin panjang. Sebelum adanya pandemi Covid-19, pekerja migran harus mengikuti program pelatihan selama 3 bulan dan kalau prosesnya berjalan lancar maka bisa segera diberangkatkan. Sementara dengan tambahan kewajiban karantina, pekerja migran setidaknya butuh waktu lebih dari 4 bulan untuk bisa bekerja.

“Yang harus diperhatikan screening untuk masuk balai latihan kerja atau tempat pelatihan yang harus dilakukan dengan ketat. Setelah dipastikan kondisinya negatif Covid-18 maka mereka bisa menjalani karantina sambil mengikuti pelatihan,” kata Agung lagi.

Darnichn.



Related Articles