Breaking NewsPMI Malaysia

Kisah Sri yang Sukses Setelah Berhenti Bekerja Sebagai PMI di Malaysia

Masih teringat di benak Sri, pada 2004 silam ia harus meninggalkan kampung halamannya untuk pergi bekerja ke Malaysia. Merantau ke negeri orang bukan tanpa alasan, ia ingin membantu perekonomian keluarga dan juga menyusul suaminya yang terlebih dulu menjadi PMI di Malaysia. “Suami saya sudah bekerja terlebih dahulu sebagai pekerja migran tapi penghasilan yang dikirim memang belum mencukupi,” cerita Sri.

Melalui agen penyalur tenaga kerja di Sabah, Malaysia Sri bekerja di perusahaan triplek. Di sana dalam sebulan ia mendapatkan penghasilan sebesar 2,5 juta rupiah di kala itu. Penghasilan itu kadang meningkat ketika ia bekerja lebih dari waktu yang ditentukan. “Kalau kerja lembur, sebulan saja bisa dapat tambahan sebesar 500 ribu rupiah,” kata Sri.

Selama 4 tahun bekerja, Sri harus rela berpisah dengan anaknya dan sebagai ibu, ia merasa sedih tidak bisa membesarkan anak semata wayangnya saat itu. Sri pun merasa bimbang dan ia merasa uang yang dicari untuk membantu meningkatkan perekonomian keluarga seperti tak ada artinya. Tahun 2007, Sri dan suaminya memilih pulang ke kampung halaman dan berhenti bekerja sebagai PMI. Mereka memanfaatkan berbagai peluang usaha yang ada, demi berkumpul bersama keluarganya. “Ketika pulang, saya memilih untuk bertani,” tutur Sri.

Selama 10 tahun berprofesi sebagai petani, pada akhirnya Sri bertemu dengan usaha makanan ringan milik mantan Pekerja Migran Indonesia. Ia pun meminta izin untuk membantu memasarkan produk-produk olahan makanan ringan itu. Dia memasarkan makanan ringan tersebut lewat media sosial seperti facebook maupun whatsapp. Dalam sehari, dia bisa menjual lebih dari sepuluh bungkus dan untungnya terbilang lumayan, dalam sehari dia bisa menghasilkan 170 ribu rupiah.

Sri kemudian tertarik untuk bergabung dengan kelompok usaha milik Purnawirawan PMI itu dan Sri diterima kemudian ditempatkan di bagian produksi. Mengolah berbagai makanan ringan seperti pisang dan jagung menjadi keripik dan brownis. Sejak bergabung, per bulan Sri berpenghasilan 2,7 juta rupiah. Terlebih pada saat musim lebaran, produksi makanan olahan mengalami peningkatan yang sangat signifikan. Jika hari biasa jagung dan pisang yang diolah bisa 50kg, sementara lebaran bisa sampai 100kg.

“Kalau lebaran penghasilan yang kami dapat bisa mencapai 60 juta rupiah dan kalau natal sekitaran 16 juta rupiah,” ungkap Sri. Penghasilan dari menjual makanan ringan itu, dibagi rata untuk seluruh anggota dengan persentase yang telah ditentukan. Sementara sebagian penghasilan disisihkan untuk dana simpan pinjam kelompok. “Alhamdulillah, usaha ini sudah dirasakan dengan penghasilan yang terbilang mencukupi dan kawan-kawan saya sudah tidak mau lagi bekerja sebagai PMI,” pungkas Sri Dewi.

Darnichn.



Related Articles