Breaking NewsPMI lainnya

Imigrasi Malaysia Gerebek Tempat Prostitusi, 6 Wanita Indonesia Ditahan

Departemen Imigrasi Malaysia (JIM) telah menggerebek dua tempat prostitusi yang menyajikan pelacur warga asing di Nilai, Negeri Sembilan dan Cheras, Kuala Lumpur dalam rangkaian operasi Op Gegar pada 6 dan 7 Oktober 2021.

Rangkaian Operasi Gegar ini dilakukan untuk memberantas aktivitas prostitusi selama masa Rencana Pemulihan Nasional (PPN). Dalam operasi di dua lokasi ini, JIM telah berhasil menahan total 16 orang yang terdiri dari 14 orang warga asing dan dua orang warga lokal.

Operasi pertama dilakukan pada 6 Oktober 2021 di sebuah hotel murah di Nilai, Negeri Sembilan yang melakukan kegiatan prostitusi yang melibatkan perempuan warga asing. Lokasi prostitusi ini dikunjungi oleh pelanggan yang terdiri dari penduduk lokal dan warga asing dengan menggunakan paket layanan seks yang ditawarkan dengan ‘tarif tetap’ RM180 untuk satu kali berlangganan. Pelanggan harus memilih seorang wanita dan melakukan reservasi terlebih dahulu melalui aplikasi ‘Wechat’ dan ‘Telegram’.

Dari pemeriksaan di lokasi ini, petugas operasi berhasil mengamankan total lima perempuan warga asing yang terdiri dari tiga wanita Thailand dan dua wanita warga Indonesia yang diduga terlibat prostitusi. Juga ditangkap adalah seorang pria Indonesia yang merupakan pelanggan di tempat selama penggerebekan. Pemeriksaan awal menemukan bahwa beberapa wanita warga asing yang ditahan juga terlibat kasus narkoba dan masih dalam proses persidangan di pengadilan.

Operasi kedua dilakukan pada 7 Oktober 2021 di sebuah hotel bintang tiga di Cheras, Kuala Lumpur. Operasi ini cukup menantang karena tempat tersebut dilengkapi dengan CCTV dan ‘Tonto’ sehingga mereka akan bertindak cepat untuk menghentikan aktivitas dan menutup tempat jika mereka dapat mendeteksi gerakan mencurigakan dari pihak berwenang.

Dari hasil pemeriksaan di tempat tersebut, JIM berhasil menahan total delapan perempuan warga asing yang diduga terlibat dalam prostitusi dan dua laki-laki warga lokal yang menjadi pelindung dari perempuan-perempuan tersebut. Kedelapan perempuan asing tersebut terdiri dari empat warga negara Indonesia, dua warga negara Thailand, dan dua warga negara Vietnam.

Agar tidak terdeteksi oleh pihak berwenang, sindikat prostitusi mendaftarkan kamar di hotel dengan menggunakan nama penduduk setempat dan hanya menerima pelanggan yang telah melakukan reservasi melalui transaksi ‘Wechat’ dan ‘Telegram’.

Layanan seks ditawarkan dengan harga mulai dari RM180 untuk periode 45 menit dan RM1.800 untuk langganan 24 jam atau harian. Setiap pelanggan pertama-tama akan memilih wanita warga asing yang mereka ingin berlangganan melalui aplikasi ‘Wechat’ dan ‘Telegram’.

Pelanggaran yang dilakukan para warga asing yang ditahan adalah tidak adanya dokumen identitas, tinggal lebih masa (overstay), dan pelanggaran lain yang melanggar Undang-Undang Keimigrasian.

Semua tahanan akan ditempatkan di Depot Detensi Imigrasi Semenyih, Selangor untuk penyelidikan sesuai dengan Undang-Undang Perdagangan Orang dan Anti-Penyelundupan Migran (ATIPSOM), Undang-Undang terkait keimigrasian.

Melalui Kenyataan Media (Siaran Pers, Red) tertanggal 13 Oktober Jim menyebutkan, setelah penggerebekan di dua lokasi tersebut, JIM telah mendeteksi dan mengidentifikasi beberapa lokasi tempat yang merupakan jaringan sindikat yang aktif melakukan kegiatan prostitusi. Operasi penertiban dan tindak lanjut akan dilakukan untuk memerangi kegiatan asusila yang dapat mencemari proses PPN.



Related Articles