Breaking News

Buruh Perempuan Paling Beresiko

Sungguh sangat menarik mengkaji perlindungan buruh Perempuan terutama yang paling marjinal. Tema itu pula yang dibahas oleh Women Working Group (WMG) dan For Migran Indonesia untuk merayakan hari Buruh yang jatuh pada tanggal 1 Mei 2021 lalu dengan mengadakan webinar. Dalam acara webinar tersebut ada yang berpendapat bahwa sebenarnya Perlindungan bagi buruh sudah dijamin oleh konstitusi dan beberapa peraturan perundangan undangan di Indonesia. Maupun konvensi-konvensi Internasional seperti konvensi perlindungan hak ekonomi, sosial, budaya termasuk kebebasan berserikat dan berkumpul, hak kesehatan, dan perlindungan teknis (keselamatan kerja).

Di situasi sulit karena adanya pandemi sekarang ini banyak memberikan dampak yang luar biasa terutama pada pekerja perempuan. Kaitan situasi pandemi dengan perempuan yaitu menutup sektor pekerjaan bagi perempuan seperti di bidang perhotelan, panti jompo dan lain sebagainya. Banyak terdengar adanya kasus pengurangan upah buruh perempuan dan bahkan ada yang terpaksa harus diberhentikan dari pekerjaannya.

Dalam acara webinar yang dipandu oleh Erny Handayani, Ketua Lembaga Yayasan Bakti Alumni Yustisia (BAYU) tersebut menghasilkan materi sebagai berikut :
Pandemi Covid19 ini menyebabkan banyak buruh baik perempuan maupun laki-laki yang dirumahkan. Menurut Yatini buruh perempuan yang bekerja di rumah memiliki beban ganda dikarenakan harus WFH (Work From Home) sekaligus harus mengurusi urusan domestik seperti mendampingi anak anaknya untuk School From Home, melayani suami dan juga mengurus pekerjaan rumah.
Perempuan sebagai Pekerja Rumah Tangga rentan karena upah mereka yang kurang dan regulasi untuk mengatur hal tersebut belum disahkan yakni tentang perlindungan PRT.

Akan tetapi kekuatan perempuan menurut Yatini sangatlah luar biasa karena di masa pandemi ini perempuan lah yang banyak membuat usaha UMKM yang ditawarkan melalui media sosial sehingga dapat lebih produktif. Ia pun menambahkan bahwa semua buruh harus diberikan prioritas untuk mendapatkan vaksin Covid19. Jadi kesimpulan dari adanya webinar ini adalah masih banyak program intervensi yang seharusnya dilakukan pemerintah untuk membantu buruh perempuan

Darnichn.



Related Articles